Minggu, 06 Maret 2011

Ditujukan Kepada yang Meremehkan atau Meninggalkan Shalat Lima Waktu (Bag 3, Terakhir)

Oleh: Ustadz Abu Abdillah Ahmad Zainuddin, Lc
5. Buruk dan kejinya siksa akhirat untuk orang yang meremehkan atau meninggalkan shalat.
~ Siksa bagi yang meninggalkan shalat, kepalanya dilempari dengan batu terus menerus.

سَمُرَةُ بْنُ جُنْدَبٍ – رضى الله عنه – قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مِمَّا يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ لأَصْحَابِهِ « هَلْ رَأَى أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنْ رُؤْيَا » . قَالَ فَيَقُصُّ عَلَيْهِ مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُصَّ ، وَإِنَّهُ قَالَ ذَاتَ غَدَاةٍ « إِنَّهُ أَتَانِى اللَّيْلَةَ آتِيَانِ ، وَإِنَّهُمَا ابْتَعَثَانِى ، وَإِنَّهُمَا قَالاَ لِى انْطَلِقْ . وَإِنِّى انْطَلَقْتُ مَعَهُمَا ، وَإِنَّا أَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مُضْطَجِعٍ ، وَإِذَا آخَرُ قَائِمٌ عَلَيْهِ بِصَخْرَةٍ ، وَإِذَا هُوَ يَهْوِى بِالصَّخْرَةِ لِرَأْسِهِ ، فَيَثْلَغُ رَأْسَهُ فَيَتَهَدْهَدُ الْحَجَرُ هَا هُنَا ، فَيَتْبَعُ الْحَجَرَ فَيَأْخُذُهُ ، فَلاَ يَرْجِعُ إِلَيْهِ حَتَّى يَصِحَّ رَأْسُهُ كَمَا كَانَ ، ثُمَّ يَعُودُ عَلَيْهِ ، فَيَفْعَلُ بِهِ مِثْلَ مَا فَعَلَ الْمَرَّةَ الأُولَى . قَالَ قُلْتُ لَهُمَا سُبْحَانَ اللَّهِ مَا هَذَانِ.

Artinya: “Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu berkata: “Senantiasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sering bertanya kepada para shahabatnya: “Apakah salah seorang dari kalian ada yang bermimpi?”, maka berceritalah yang ingin bercerita (tentang mimpinya). Dan pada suatu pagi beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tadi malam telah datang kepadaku dua tamu, mereka mengajakku keluar dan berkata kepadaku: “Ayo jalan”, lalu akupun pergi bersama keduanya, lalu kami mendatangi seorang yang lagi berbaring terlentang dan seorang lagi berdiri sambil memegang sebongkah batu, ia melemparkan batu tersebut ke kepalanya (orang yang berbaring terlentang tadi), batu tadi akhirnya memecahkan kepalanya dan batu tersebut menggelinding kesana kemari, lalu ia mengikuti batunya dan mengambilnya, tidaklah ia kembali kepada orang yang berbaring terlentang tadi sampai kepalanya kembali seperti semula, kemudian ia kembali kepada orang yang berbaring terlentang tadi dan mengulangi perbuatannya, seperti yang ia lakukan ketika pertama kali. Lalu aku bertanya kepada dua yang membawaku: “Maha suci Allah, Apa yang mereka berdua ini lakukan?”…,
Di akhir cerita dalam hadits ini disebutkan:

قُلْتُ لَهُمَا فَإِنِّى قَدْ رَأَيْتُ مُنْذُ اللَّيْلَةِ عَجَبًا ، فَمَا هَذَا الَّذِى رَأَيْتُ قَالَ قَالاَ لِى أَمَا إِنَّا سَنُخْبِرُكَ ، أَمَّا الرَّجُلُ الأَوَّلُ الَّذِى أَتَيْتَ عَلَيْهِ يُثْلَغُ رَأْسُهُ بِالْحَجَرِ ، فَإِنَّهُ الرَّجُلُ يَأْخُذُ الْقُرْآنَ فَيَرْفُضُهُ وَيَنَامُ عَنِ الصَّلاَةِ الْمَكْتُوبَةِ ،

“Aku (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) berkata kepada dua orang yang membawaku: “Sungguh malam ini aku telah melihat sesuatu yang sangat menakjubkan, kiranya apakah yang telah aku lihat?”, dua orang ini menjawab: “Sungguh kami akan memberitahukanmu, adapun orang pertama yang engkau datangi, yang kepalanya dipecahkan dengan batu, dialah yang mengambil Al Quran lalu membuangnya dan tidur (tidak mengerjakan) shalat yang wajib, …”. (HR. Bukhari)
Maksud dari “Mengambil Al Quran lalu membuangnya”: Meninggalkan hafalan Al Quran dan tidak mengamalkan maknanya. (Lihat Syarh Shahih Al Bukhari, karya Ibnu Baththal, Umdat Al Qari, karya Badruddin Al ‘Ainy)
Maksud dari “Tidur (tidak mengerjakan) shalat yang wajib”: Melalaikan shalat sehingga keluar waktunya. (Lihat Syarh Shahih Bukhari, karya Ibnu Baththal)
~ Orang yang di dunia tidak sujud, di akhirat juga tidak akan pernah mampu sujud.

يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ ) القلم 42- 43 .

Artinya: “Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa”. “(dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sehat”. (QS. Al Qalam: 42-43)
Ibnu Katsir rahimahullah (w: 774H) berkata:

ولما دعوا إلى السجود في الدنيا فامتنعوا منه مع صحتهم وسلامتهم كذلك عوقبوا بعدم قدرتهم عليه في الآخرة، إذا تجلى الرب، عز وجل، فيسجد له المؤمنون، لا يستطيع أحد من الكافرين ولا المنافقين أن يسجُد، بل يعود ظهر أحدهم طبقًا واحدًا، كلما أراد أحدهم أن يسجد خَرّ لقفاه، عكس السجود، كما كانوا في الدنيا، بخلاف ما عليه المؤمنون. [تفسير ابن كثير 8/ 200]

Artinya: “Dan tatkala mereka diajak untuk sujud di dunia mereka menolaknya, padahal mereka dalam keadaan sehat dan selamat, maka demikianlah mereka disiksa, yaitu dengan tidak mampu untuk melakukannya di akhirat. Jika Allah Azza wa Jalla menampakkan dirinya, maka orang-orang beriman akan sujud kepada-Nya dan tidak ada seorangpun dari orang kafir dan munafik mampu untuk sujud, tetapi punggung mereka kembali menjadi satu bagian, setiap kali salah seorang dari mereka ingin sujud, maka (punggungnya) akan kembali kepada lehernya, kebalikan dari sujud, sebagaimana mereka ketika di dunia, berbeda dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang yang beriman”. (Lihat Tafsir Al Quran Al Azhim, karya Ibnu Katsir)
Al Wahidi rahimahullah (w: 468H) berkata:

قال المفسرون : يسجد الخلق كلهم لله سجدة واحدة ، ويبقى الكفار والمنافقون يريدون أن يسجدوا فلا يستطيعون؛ لأن أصلابهم تيبست فلا تلين للسجود .

“Para Ahli Tafsir berkata: “Seluruh makhluk akan sujud kepada Allah secara bersama-sama, yang tertinggal orang-orang kafir, munafik, mereka ingin sujud akan tetapi tidak bisa sujud, karena punggung mereka mengeras, tidak lemah untuk sujud.

{ وَقَدْ كَانُواْ يُدْعَوْنَ إِلَى السجود } أي في الدنيا { وَهُمْ سالمون } أي معافون عن العلل متمكنون من الفعل .

Maksud “Dan sesungguhnya mereka dahulu diseru untuk bersujud”, yaitu ketika di dunia.
Maksud “dan mereka dalam keadaan sehat” : yaitu mereka terlepas dari penyakit, memungkinkan mereka untuk melaksanakannya.
Berkata Ibrahim At Taimy rahimahullah (w: 153H):

يدعون بالأذان والإقامة فيأبون

“Mereka diseru dengan adzan dan iqamah tertapi mereka enggan (mendatanginya)”.
Berkata Sa’id bin Jubair rahimahullah (w: 95H):

يسمعون حيّ على الفلاح ، فلا يجيبون

“Mereka mendengar حي على الفلاح tetapi mereka tidak mendatanginya”. (Lihat Fath Al Qadir, karya Asy Syaukani)
- Orang yang tidak mengerjakan shalat akan masuk neraka Saqar.

{إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ (39) فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ (40) عَنِ الْمُجْرِمِينَ (41) مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ (42) قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ (43) } [المدثر: 39 - 44]

Artinya: “Kecuali golongan kanan”. “Berada di dalam surga, mereka tanya menanya”. “Tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa”. “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?”. “Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat”. (QS. Al Mudatstsir: 39-44)
Bagaimana siksa Neraka Saqar?

{وَمَا أَدْرَاكَ مَا سَقَرُ (27) لَا تُبْقِي وَلَا تَذَرُ (28) لَوَّاحَةٌ لِلْبَشَرِ (29) عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ (30) وَمَا جَعَلْنَا أَصْحَابَ النَّارِ إِلَّا مَلَائِكَةً وَمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ إِلَّا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا وَلَا يَرْتَابَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْمُؤْمِنُونَ وَلِيَقُولَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْكَافِرُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلًا كَذَلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكْرَى لِلْبَشَرِ (31)} [المدثر: 27 - 31]

Artinya: “Tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu?”. “Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan”. “(Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia”. “Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)”. “Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): “Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?” Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia”. (QS. Al Mudatstsir: 27-31)
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah (w:774H):

{ لا تُبْقِي وَلا تَذَرُ } أي: تأكل لحومهم وعروقهم وعَصَبهم وجلودهم، ثم تبدل غير ذلك، وهم في ذلك لا يموتون ولا يحيون، قاله ابن بريدة وأبو سنان وغيرهما.

وقوله: { لَوَّاحَةٌ لِلْبَشَرِ } قال مجاهد: أي للجلد، وقال أبو رَزين: تلفح الجلد لفحة فتدعه أسود من الليل. وقال زيد بن أسلم: تلوح أجسادهم عليها. وقال قتادة: { لَوَّاحَةٌ لِلْبَشَرِ } أي: حراقة للجلد. وقال ابن عباس: تحرق بشرة الإنسان.

Maksud “Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan”: Api neraka saqar akan memakan daging, urat, otot dan kulit mereka, kemudian diganti dengan yang lainnya, dan mereka dalam keadaan demikian tidak mati dan tidak juga hidup, ini pendapat Ibnu Buraidah dan Abu Sinan serta selain mereka berdua.
Maksud “(Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia”:
Berkata Mujahid rahimahullah (w: 104H): “yaitu (membakar) kulit”,
Berkata Abu Razin rahimahullah (w: 85H): “(Api Neraka Saqar) menghanguskan kulit, lalu dibiarkan sehingga menjadi lebih hitam daripada gelapnya malam”,
Berkata Zaid bin Aslam rahimahullah (w: 136H): “(Api Neraka Saqar) menghancurkan jasad mereka”.
Berkata Qatadah rahimahullah (w: 118H): “(Api Neraka Saqar) pembakar kulit”.
Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma: “(Api Neraka Saqar) membakar kulit manusia”. (Lihat Tafsir Al Quran Al Azhim, karya Ibnu Katsir)
~ Siksa bagi yang meremehkan shalat, di neraka akan mendapati Ghayy (kerugian, keburukan, dimasukkan ke dalam neraka Jahannam yang sangat dalam, baunya busuk, isinya dari muntah dan darah serta nanah dari penghuni neraka).

{ فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا } [مريم: 59]

Artinya: “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui Ghayy”. (QS. Maryam: 59)
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah (w: 774H):

عن ابن عباس: { فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا } أي: خسرانا. وقال قتادة: شرًّا.

عن عبد الله بن مسعود: { فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا } قال: واد في جهنم، بعيد القعر، خبيث الطعم.

عن أبي عياض في قوله: { فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا } قال: واد في جهنم من قيح ودم.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “maka mereka kelak akan menemui Ghayy”, maksudnya adalah kerugian”.
Qatadah rahimahullah berkata: “Ghayy adalah keburukan”.
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ghayy adalah lembah di dalam neraka Jahannam, lubangnya dalam, baunya busuk”.
Abu ‘Iyadh berkata: “Ghayy adalah lembah di dalam neraka Jahannam, isinya muntah dan darah”. (Lihat Tafsir Al Quran Al Azhim, karya Ibnu Katsir)
6. Kaffarah (Penebus dosa) bagi yang meninggalkan shalat lima waktu:
~ Jika meninggalkan shalat lima waktu karena lupa dan ketiduran, maka wajib baginya mengerjakan shalat, kapan dia ingat atau bangun dari tidurnya, tidak ada penebus dalam hal ini kecuali itu:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ نَسِىَ صَلاَةً أو نام عنها فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلاَّ ذَلِكَ ».

Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang kelupaan shalat atau ketiduran darinya maka hendaklah ia mengerjakannya jika ia ingat, tidak ada penebus baginya kecuali itu”. (HR. Bukhari dan Muslim serta Al Baihaqi, lafazh hadits di atas milik riwayat Al Baihaqi)
~ Jika meninggalkan shalat lima waktu karena malas dan sikap peremehan, baik sekali shalat atau lebih, sampai keluar waktunya, maka wajib baginya:
1. Bertaubat dengan sebenar-benarnya, tidak ada penebusnya kecuali ini. Inilah Pendapat yang benar bagi yang meninggalkan shalat dengan sengaja tanpa ada udzur sampai keluar waktunya.
(Lihat fatwa Komite Tetap untuk Fatwa dan Riset Ilmiah, Kerajaan Arab Saudi, no fatwa. 4791)
2. Tidak perlu mengqadha shalat yang ia tinggalkan tadi, karena shalat adalah ibadah yang ditentukan waktunya dan barangsiapa yang meninggalkan ibadah yang telah ditentukan waktunya tanpa ada udzur seperti shalat dan puasa, kemudian dia bertaubat, maka tidak perlu dia mengqadha shalat yang dia tinggalkan, karena ibadah ini telah ditentukan waktunya oleh pembuat syari’at (Allah Ta’ala), dengan batasan awal waktu dan akhirnya.
(Lihat Majmu’ Fatawa wa Rasail, 1/322)
Mengqadha shalat yang ditinggalkan dengan sengaja tanpa alasan, sampai keluar waktunya berarti telah melaksanakan shalat diluar waktunya, dan berarti pula telah melakukan amalan yang tidak ada landasannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, jika melakukan amalan yang tidak ada landasannya dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam maka amalannya tertolak.

« مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا ، فَهْوَ رَدٌّ » .

Artinya: “Siapa yang melakukan sebuah amalan, tidak ada dari perkara kami, maka amalannya tertolak”. (HR. Muslim. Lihat Fatwa Ibnu Utsaimin dalam Nur Ala Ad Darb, Syamila)
Meskipun sebagian ulama bahkan Jumhur berpendapat, jika yang lupa dan ketiduran dari shalatnya saja diwajibkan untuk diqadha jika dia ingat atau bangun dari tidurnya, maka terlebih lagi yang meninggalkan shalat karena sengaja, tidak ada udzur sampai keluar waktunya. (Lihat Al Jami’ li Ahkam Al Quran, karya Al Qurthuby dan Fath Al Bari, karya Ibnu Hajar)
Beberapa hal berikut, beredar dimasyarakat dan diyakini sebagai penebus bagi yang pernah meninggalkan shalat dengan sengaja tanpa ada alasan, sampai keluar waktunya, dan beberapa hal ini merupakan sesuatu yang mengada-ada di dalam permasalahan agama = bid’ah:
~ mengqadha shalat setiap selesai shalat fardhu dengan keyakinan mengqadha shalat yang pernah ditinggalkan dengan sengaja tanpa ada alasan sampai keluar waktunya.
~ memperbanyak shalat di masjid al haram atau masjid an nabawi dengan keyakinan sebagai pengganti shalat yang pernah ditinggalkan dengan sengaja tanpa ada alasan, sampai keluar waktunya..
- mengeluarkan sedekah sebagai penebus untuk shalat yang ditinggalkan dengan sengaja tanpa ada alasan, sampai keluar waktunya.
7. Terakhir…
Kawan pembaca…
Jangan lupa selalu berdoa dengan doanya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam agar kita selalu mampu mendirikan shalat selama hayat masih di kandung badan:

{رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ}

Artinya: “Wahai Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, wahai Rabb kami, perkenankanlah doa kami”. (QS. Ibrahim: 40)
Selesai.
Ahmad Zainuddin
Selasa, 26 Rabi’ul Awwal 1432 H
Dammam, KSA
~ Catatan FB beliau dipublikasi kembali oleh Moslemsunnah.Wordpress.com ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

kembang api