Jumat, 10 Juni 2011

DAMPAK KEHINAAN DOSA

Hal yang tidak bisa dimungkiri adalah di samping kita makhluk kebajikan, kita juga makhluk yang bersemai banyak kesalahan. Tidak ada satu pun makhluk manusia di bumi ini yang bersih dari kesalahan. Pasti pernah saja melakukan kesalahan. Yang paling baik di antara kita, bukanlah yang tidak pernah berbuat salah. Pernah berbuat salah namun segera bertaubat, meminta ampun dan maaf.

Salah satu di antara upaya untuk terhindar atau meminimalisasi kesalahan dan dosa adalah mengenali apa saja dampak dari perbuatan dosa dan maksiat. Seperti nasihat Ibrahim bin Adham kepada ahli maksiat. Ia menasehatinya dengan banyak berpikir tentang dampak kehinaan dari perbuatan maksiat dan dosa. Berikut ini adalah beberapa keadaan yang akan kita terima dari ulah dan perbuatan dosa kita.

Pertama rasa gundah dan gelisah. Menurut 'Aidh al-Qarni, seorang ulama dan penulis Islam terkemuka, rasa gundah ini merupakan dampak yang paling signifikan. "Dan Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (QS Thaha [20]: 124-126). Orang yang berbuat dosa dan maksiat sejatinya diliputi oleh kegelisahan dan keterasingan. Di hatinya sebenarnya ada pengingkaran.

Kedua, di antara dampak dosa dan maksiat adalah terhalangnya rezeki. Ada dua kemungkinan terhalangnya rezeki; pertama terhalang turunnya rezeki itu sendiri, kedua terhalangnya keberkahan rezeki. Benarlah ungkapan Ibnu Abbas RA, "Kebaikan itu memancar keceriaan di wajahnya dan cahaya di hati, kelapangan rezeki, mahabbah (kecintaan) pada hati makhluk. Sementara kemaksiatan itu menyebabkan warna hitam (kegelapan) pada wajah dan hati, kesempitan rezeki dan kemarahan di hati makhluk.

Ketiga, maksiat dan dosa bisa menyebabkan lupa. Imam Syafi'i pernah mengadu kepada guru beliau Imam Waki' lantaran lemahnya hapalan. Maka, Imam Waki' berwasiat agar muridnya itu meninggalkan maksiat. "Demi Allah aku tidak mendapatkan resep yang paling ampuh untuk menjaga hapalan di banding meninggalkan maksiat."

Keempat, dibuat antipati (benci) pada hati setiap makhluk. Cinta dan murka yang ada pada diri makhluk hakikatnya datang dari Allah SWT. Disebut dalam kitab Shahih Bukhari, "Jika Allah SWT murka kepada seorang fulan maka ia akan berkata kepada Jibril bahwa ia murka terhadap fulan, maka Jibril pun murka terhadapnya dan ia menyampaikan kepada malaikat bahwa Allah SWT murka terhadap fulan maka mereka pun murka kepadanya, kemudian ditetapkan kemurkaan di hati setiap makhluk di bumi."

Kelima, azab di akhirat. Dunia tempat menanam dan akhirat tempat menuai. Betapapun kita akan hidup panjang tanpa akhir di akhirat nanti. Sementara hanya ada dua tempat; neraka dan surga. Jika ingin terhindar dari pedihnya api neraka dan sebaliknya ingin menikmati surga, maka jangan maksiat apalagi berdosa. "Sesungguhnya barang siapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun." (QS Ali Imran [3]: 192).

(",)v




Sumber : koran.republika.co.id
Oleh : Ustadz Muhammad Arifin Ilham & http://siradel.blogspot.com

Jumat, 03 Juni 2011

MENYANTUNI ANAK YATIM, SEDEKAH YANG MEMBUKA PINTU SYURGA

Cerita atau artikel yg saya ambil dari milis daarut-tauhid.
Salah satu artikel yang menurut saya sangat berharga apabila dibaca,dan tidak dibiarkan begitu saja disimpan didalam inbox emailku. I will share that article with you guys:)

MENYANTUNI ANAK YATIM
SEDEKAH YANG BESAR PAHALANYA

Di kota Basrah, Irak, pernah hidup seorang laki-laki yang senantiasa
menghabiskan hari-harinya dengan meneggak minuman keras. Berulangkali
sudah para tetangga mengingatkan ia supaya meninggalkan kebiasaan ber
mabuk-mabukan. Namun tidak sekalipun digubrisnya. Akibat kebiasaan
yang tidak terpuji itu, ia hidup terkucil. Begitupula keadaannya waktu
laki-laki tersebut meninggal dunia, tidak seorangpun yang bersedia
mengurus jenasahnya.

Terpaksa hanya istri laki-laki itu yang mengurus jenasahnya.
Usai memandikan dan mengkafani, si istri mencari orang-orang yang bersedia
menshalati jenasah suaminya. Namun tidak seorangpun yang bersedia.
Ditengah keputusasaannya, datanglah seorang ulama zuhud berniat
menshalatinya. Kejadian tersebut, tentu saja menggemparkan masyarakat
setempat.
"Mengapa ulama yang zahid itu sudi menshalatinya?" tanya salah seorang
penduduk.
"Mungkin dia tidak tahu, bahwa semasa hidupnya simayat suka mabuk
mabukan,"jawab yang lain.
"Atau, mungkin juga karena rasa kasian melihat tidak seorangpun
diantara kita yang sudi mengurusnya," reka yang lain lagi.

Mendengar komentar-komentar penduduk itu, sang ulama segera memberikan
penjelasan.
"Di dalam tidurku semalam, aku bermimpi mendapat perintah ke tempat ini.
Mendatangi jenasah seorang laki-laki yang hanya ditemani istrinya. Aku
juga diperintahkan menshalatinya, karena dosa-dosa si mayat selama
hidupnya telah diampuni oleh-Nya."

Mendengar penuturan ulama yang zahid itu, semua orang tercenggang keheranan.
Mereka saling berpandangan. Tatap mata mereka, tampaknya bertanya-tanya.
Amal kebajikan apakah yang dimiliki oleh si mayat sehingga diampuni dosa
dosanya, pikir mereka. Rasa penasaran mereka kemudian terjawab ketika sang
ulama berdialog dengan istri si mayat.
"Kebaikan apakah yang banyak diperbuat suamimu semasa hidupnya?" tanya sang
ulama. "tidak ada,"istri almarhum menggeleng. "Setiap hari aku menyaksikan
mabuk-mabukan."
"Subhanallah," komentar sang ulama. "Cobalah kau ingat-ingat, barangkali ia
memiliki amal kebaikan."
"Demi Tuhan tidak ada. Hanya saja kalau dia sadar dari mabuknya disaat waktu
shalat Subuh, ia segera berganti pakaian lalu mengambil wudlu dan shalat
berjamaah. Setelah itu kembali kepada kegemarannya menenggak arak."
Sang ulama masih terdiam mendengarkan. Begitu juga penduduk setempat.
"Dan ketika sadar di tengah keasyikannya menenggak arak," kisah istri
almarhum lagi. "Ia menangis sambil menyesali diri: Ya Tuhanku, dimanakah
sudut Neraka Jahanam. Apakah Engkau akan mengisi Jahanam dengan dosa-dosaku
ini?. Begitu ia sering menyesali diri."
"Selain itu?"
"Rumah kami tak pernah sepi dari anak-anak yatim yang ia asuh dan sayangi
melebihi anaknya sendiri."

Sang Ulama mengangguk-angguk lantas menshalatinya. Para penduduk tetangga
almarhum akhirnya tergugah untuk menshalatinya juga.

(Disadur dari buku : Sedekah Membuka Pintu Surga oleh Syamsul Rijal Hamid,
Hal 90 - 92)

MENYANTUNI ANAK YATIM

MUQODIMAH
Segala puji bagi Alloh Ta’ala Yang Mengaruniakan rezeki tanpa batas, Yang Maha Pemurah lagi Maha Pemberi. Sholawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, kerabat, sahabat, dan pengikutnya yang setia hingga hari kiamat.
Saudaraku Muslim ! Alangkah banyaknya duka dan derita yang mengisi kehidupan ini. Ia memang tidak belas kasihan kepada siapapun. Dan tidak ada seorang pun yang bisa meneguk air yang benar-benar jernih dari gelas kehidupan ini.
 Dalam kehidupan ini, manusia beralih dari keadaan-keadaan bahagia kepada keadaan-keadaan menderita. Tidak ada bedanya, yang masih kecil maupun yang sudah dewasa. Penjara-penjara kehidupan dan beban-beban beratnya berbeda-beda tingkatan. Ada yang kecil dan berlangsung beberapa saat saja, ada pula yang besar, dan berlangsung dalam masa yang panjang.
 Saudaraku Muslim ! Ini adalah gambaran dari sebagian derita kehidupan itu, yang dialami oleh sebagian orang diantara kita, yang kepahitannya mereka rasakan dalam masa yang panjang !
 Kepahitan yang dirasakan oleh orang-orang papa dan lemah itu, yang lebih dulu merasakan pahitnya kehidupan sebelum manisnya.
 Tahukah anda, siapa orang-orang papa itu ?
 Mereka adalah anak-anak yatim! Mereka adalah anak-anak, yang kehilangan sosok yang mencarikan nafkah bagi mereka sebelum mengerti apa itu nafkah, apa itu pekerjaan. Bahkan mereka adalah anak-anak yang kehilangan sosok yang membimbing mereka, sebelum mengenal apa-apa. Merekalah anak yatim ! Anak yang dikejutkan oleh kematian ayahnya, sebelum merasakan manisnya kasih sayang ayah, sebelum mereka merasakan perlindungan tangan yang perkasa itu !
 Saudaraku ! Anda sudah tahu, siapakah anak yatim itu ?! Wahai anda yang memiliki hati yang penyayang ! Tahukah Anda, apa kewajiban kita terhadapnya ?
MENYANTUNI ANAK YATIM ADALAH AKHLAK MULIA
Saudaraku Muslim ! Islam telah mendorong pemeluknya agar memiliki akhlak mulia. Salah satu akhlak mulia itu adalah menyantuni anak yatim.
Sesungguhnya, anak yatim adalah manusia yang paling membutuhkan pertolongan dan kasih sayang. Karena ia adalah anak yang kehilangan ayahnya pada saat ia sangat  membutuhkannya. Ia membutuhkan pertolongan dan kasih sayang kita, karena ia tidak mungkin mendapatkan kasih sayang ayahnya yang telah tiada.
Jika anda melihat seseorang yang penyayang kepada anak-anak yatim dan menyantuni mereka, maka ketahuilah bahwa ia adalah seorang yang berbudi dan berakhlak mulia.
Suatu ketika Saib bin Abdulloh rodhiyallohu ‘anhu datang kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, maka Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya :
ياَ سَائِبُ انْظُرْ أَخْلاَقَكَ الَّتِيْ كُنْتَ تَصْنَعُهَا فِيْ الجْاَهِلِيَّةِ فَاجْعَلْهَا فِيْ اْلإِسْلاَمِ. أَقْرِ الضَّيْفَ و أَكْرِمِ الْيَتِيْمَ وَ أَحْسِنْ إِلَى جَارِكَ
 
“Wahai Saib, perhatikanlah akhlak yang biasa kamu lakukan ketika kamu masih dalam kejahiliyahan, laksanakan pula ia dalam masa keislaman. Jamulah tamu, muliakanlah anak yatim, dan berbuat baiklah kepada tetangga.” [HR.Ahmad dan Abu Dawud, Shohih Abu Dawud, Al-Albani : 4836]

Dalam sebuah atsar disebutkan riwayat dari Daud ‘alaihissalam, yang berkata :
كُنْ لِلْيََتِيْمِ كَاْلأَبِ الرَّحِيْمِ
 
“Bersikaplah kepada anak yatim, seperti seorang bapak yang penyayang.” [HR. Bukhori]

Saudaraku muslim ! Kasih sayang dan berbuat baik kepada anak yatim, sebagaimana yang telah saya katakan kepada anda, adalah sebagian dari akhlak dan moralitas orang-orang yang mulia. Itu tidak bisa dilakukan kecuali oleh seorang lelaki yang mulia, yang menghimpun banyak budi pekerti mulia, yang mencintai kebajikan.
Abdullah bin Umar rodhiyallohu ‘anhu  tidak pernah memakan makanan kecuali dimeja makannya ada seorang anak yatim yang makan bersamanya.
Jadilah orang seperti itu, saudaraku ! Seorang yang penyantun, lemah lembut, dan berupaya berbuat kebaikan kepada anak yatim, mengusap air mata mereka dengan tangan dan harta anda serta memasukkan perasaan gembira ke dalam hati mereka.
Ketahuilah, bahwa jika anda mendapat taufiq untuk melaksanakan itu, maka anda benar-benar manusia yang beruntung. Yang berhak mendapat gelar “Seorang yang Berbudi”.
KEPADA ANDA YANG INGIN MENEMANI NABI DI SURGA
Saudaraku muslim ! Masuk surga adalah kesuksesan paling tinggi yang diraih oleh orang-orang yang beriman. Bagaimana pula dengan menemani Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam didalamnya? Itu adalah derajat yang akan diraih oleh orang-orang yang menyantuni anak yatim.
Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيْمِ فِيْ الْجَنَّةِ هَكَذَا وَأَشَارَ بِالسَّبَابَةِ وَالْوُسْطَى وَ فَرَجَ بَيْنَهُمَا شَيْئًا
 
“Aku dan orang-orang yang mengasuh/menyantuni anak yatim di Surga seperti ini”, Kemudian beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah seraya sedikit merenggangkannya. [HR. Bukhori].

Imam Ibnu Bathol rohimahulloh berkata : “Orang yang mendengar hadis ini wajib melaksanakannya, agar ia bisa menjadi sahabat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam di surga. Di akhirat, tidak ada kedudukan yang lebih utama dari itu.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar rohimahulloh berkata : “Isyarat ini cukup untuk menegaskan kedekatan kedudukan pemberi santunan kepada anak yatim dan kedudukan Nabi, karena tidak ada jari yang memisahkan jari telunjuk dengan jari tengah.”
Saudaraku muslim ! Tahukah anda, apa hasil yang akan diperoleh dengan menyantuni dan mengasihi anak yatim, apa sikap  anda, saudaraku, terhadap kebaikan ini ?
Jika anda termasuk orang-orang yang mampu, apakah anda pernah berpikir untuk menyantuni seorang anak yatim, sehingga anda bisa menjadi sahabat nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam di surga. Untuk menyantuni anak yatim anda tidak harus memiliki kekayaan yang melimpah. Melainkan, siapa yang memungut seorang anak yatim, memberinya makanan dengan makanan yang sehari-hari yang dimakannya, memberinya minum dengan minuman yang bisa diminumnya, maka ia akan memperoleh kedudukan tersebut.
Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
مَنْ ضَمَّ يَتِيْمًا بَيْنَ أَبَوَيْنِ مُسْلِمَيْنِ فِيْ طَعَامِهِ وَ شَرَابِهِ حَتَّى يَسْتَغْنِيَ عَنْهُ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ ……
 
“Barang siapa yang mengikutsertakan seorang anak yatim diantara dua orang tua yang muslim, dalam makan dan minumnya, sehingga mencukupinya maka ia pasti masuk surga.” [HR. Abu Ya'la dan Thobroni, Shohih At Targhib, Al-Albaniy : 2543].
Wahai anda yang ingin memperoleh apa yang bermanfaat bagi dirinya, jika anda mendapat kesempatan untuk menyantuni anak yatim, jangan sekali-kali anda sia–siakan. Jika anda tidak menyukai hal itu dan menyia-nyiakannya, maka pikirkanlah pahala bagi orang yang menyantuni anak yatim. Tidakkah anda ingin menjadi sahabat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam di sorga ?!.

MULIAKANLAH ANAK YATIM, NISCAYA HATIMU MENJADI LUNAK DAN KEBUTUHANMU TERPENUHI
Saudaraku muslim ! Jika anda mengeluhkan hati anda yang keras, maka menyantuni anak yatim merupakan sarana yang bisa menjadikan hati lunak. Ia adalah obat yang diwasiatkan oleh Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam yang telah diutus dengan membawa petunjuk dengan kebenaran Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam.
Diriwayatkan oleh Abu Darda’ rodhiyallohu ‘anhu   yang berkata :
أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ رَجُلٌ يَشْكُوْ قَسْوَةَ قَلْبِهِ, قَالَ : أَتُحِبُّ أَنْ يَلِيْنَ قَلْبُكَ, وَ تُدْرَكَ حَاجَتُكَ ؟ اِرْحَمِ الْيَتِيْمَ, وَامْسَحْ
 رَأْسَهُ, وَأَطْعِمْهُ مِنْ طَعَامِكَ, يَلِنْ قَلْبُكَ, وَتُدْرَكْ حَاجَتُكَ
 
“Ada seorang laki-laki yang datang kepada nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengeluhkan kekerasan hatinya. Nabipun bertanya : sukakah kamu, jika hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu terpenuhi ? Kasihilah anak yatim, usaplah mukanya, dan berilah makan dari makananmu, niscaya hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu akan terpenuhi.” [HR Thobroni, Targhib, Al Albaniy : 254]

Saudaraku Muslim ! Sesungguhnya, mengasihi anak yatim merupakan sarana untuk melunakkan hati dan mengupayakan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan.
Sebab, orang yang mengasihi anak yatim telah memposisikan diri seperti ayahnya. Seorang ayah, secara naluriyah memiliki karakter sayang dan mengasihi anak-anaknya. Adapun orang yang mengasihi anak yatim memiki satu sifat lain, yaitu mengasihi anak yang bukan anak kandungnya.
Barang siapa keadaannya seperti itu maka dihatinya terhimpun sarana-sarana yang bisa melembutkan hatinya, sekalipun sebelumya merupakan hati yang keras.
Tidak diragukan lagi ini merupakan obat yang mujarab. Anda tidak akan pernah mendapati orang yang menyantuni anak yatim, kecuali pasti memiliki hati yang pengasih.
Kebalikan dari ini, anda tidak akan menjumpai seorangpun yang tidak mengasihi anak yatim, kecuali ia memiliki hati yang keras dan berakhlak buruk.
Manfaat lain dari tindakan mengasihi anak yatim yang telah dikabarkan oleh nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam kepada seorang yang bertanya kepada beliau adalah : bahwa meyantuni anak yatim merupakan sarana terpenuhimya kebutuhan dan terwujudnya apa yang dicari
Sesungguhnya, orang yang berbuat kebaikan kepada anak orang lain adalah orang yang telah memasukkan rasa gembira dihati mereka. Tidak diragukan lagi, Alloh pasti tidak akan menyia-nyiakannya, karena Alloh Ta’ala Maha Pengasih dan Mencintai semua orang yang pengasih.
Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ تَبَاركَ وَتَعَالى اِرْحَمُوْا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِيْ السَّمَاءِ
 
“Orang-orang yang pengasih, akan dikasihi oleh Ar Rohman (Yang Maha Pengasih) Tabaaroka wa ta’ala. Kasihilah siapa yang ada dibumi niscaya engkau dikasihi oleh yang di langit.” [HR. Abu dawud, Tirmidzi dan lain-lain. As silsilatu shohihah : 925].
Saudaraku muslim! Kasihilah anak yatim, niscaya Alloh akan memperbaiki urusan dunia dan akhiratmu.

BAGAIMANA CARA BERBUAT BAIK KEPADA ANAK YATIM
Saudaraku muslim ! Berbuat baik kepada anak yatim, bisa dengan beberapa cara :
  1. Memberinya makan dan pakaian, serta menanggung kebutuhan-kebutuhan pokoknya. Di atas telah disampaikan kepada anda keutamaannya.
  2. Mengusap kepalanya serta menunjukkan kasih sayang kepadanya. Tindakan ini akan mempunyai pengaruh besar terhadap kejiwaan anak yatim. Ibnu Umar rodhiyallohu ‘anhu  jika melihat anak yatim, beliau mengusap kepalanya dan memberinya sesuatu.
  3. Membiayai sekolahnya, sebagaimana seseoang  ingin menyekolahkan anaknya.
  4. Mendidiknya dengan ikhlas, sebagaimana keikhlasanya dalam mendidik anak kandungnya sendiri.
  5. Jika ia melakukan perbuatan yang mengharuskan di beri hukuman maka bersikap lemah-lembut dalam mendidiknya.
  6. Bertakwa kepada Alloh dalam mengelola harta anak yatim, jika anak yatim itu mempunyai harta kekayaan. Jangan sampai hartanya di habiskan karena menginginkan agar anak yatim itu kelak tidak meminta hartanya kembali. Sebaliknya, hartanya harus di jaga, sehinga ketika ia telah dewasa, harta tersebut dikembalikan kepadanya.
  7. Mengembangkan harta anak yatim dan bersikap ikhlas di dalamnya, sehingga hartanya tidak habis oleh zakat.

Saudaraku Muslim ! Inilah beberapa gambaran tentang cara berbuat baik kepada anak yatim. Berbuat baik kepada anak yatim tidak hanya diperintahkan kepada orang-orang tertentu, akan tetapi setiap muslim diperintahkan untuk itu sebagaimana ia diperintahkan untuk melaksanakan semua amal yang baik dan sholih.
Jika Alloh ta’ala mengetahui ketulusan niat seorang hamba, niscaya Dia akan membantunya dalam melaksanakan perbuatan baik. Maka, hendaklah engkau berkeinginan kuat untuk melasanakan amal-amal shalih, walaupun baru sekedar berniat di hati sampai suatu saat Alloh memberikan kesempatan anda untuk melakukan amal solih.
Sungguh, tidak ada orang yang lebih lemah daripada orag yang tidak mampu menyelinapkan niat di hatinya untuk melasanakan amal-amal sholih.
KEPADA SETIAP MUSLIM
Saudaraku Muslim ! Berbuatlah baik kepada anak yatim, selain merupakan akhlak yang mulia yang diserukan oleh Islam, ia juga hanya dilaksanakan oleh orang-orang yang berhati penyayang dan berjiwa bersih.
Masyarakat muslim, adalah masyarakat yang diikat oleh ajaran-ajaran mulia yang diserukan oleh Islam.
Ia adalah masyarakat yang telah digambarkan oleh Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dalam penggambaran beliau yang indah, ketika beliau bersabda :
تَرَى الْمُؤْمِنِيْنَ فِيْ تَرَاحُمِهِمْ وَ تَوَادِّهِمْ وَ تَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى عُضْوًا تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَى
 
“Engkau melihat orang-orang beriman itu dalam hal kasih sayang dan saling mencintai di antara mereka, adalah seperti satu tubuh, jika ada satu organ yang mengeluh (sakit), maka seluruh tubuh akan merasakan sakit dengan tidak tidur dan panas.” [HR. Bukhori dan Muslim, redaksi ini terdapat dalam riwayat Bukhori.]
Penggambaran ini memberitahukan kepada anda, bagaimana seyogyanya keadaan dalam masyarakat muslim ini.
Anak yatim adalah bagian dari masyarakat muslim itu. Ia berhak terhadap apa yang menjadikan hak anggota masyarakat muslim lainnya, dan berkewajiban sebagaimana kewajiban masyarakat anggota muslim lainnya. Seluruh kaum muslimin wajib berbuat baik kepada anak yatim, menyantuninya, dan menggantikan kasih sayang ayahnya, serta memberikan kepadanya apa yang biasa mereka berikan kepada anak-anak dan istri mereka.

Saudaraku Muslim ! Tidaklah sulit bagi anda untuk memungut seorang anak yatim, memberi makanan seperti yang biasa anda makan sehari-hari, memberi pakaian seperti pakaian yang biasa anda pakai, dan menjadikannya sebagai salah seorang anak  anda.
Hendaklah, perbuatan baik anda ini didasarkan niat tulus untuk mencari ridho Alloh Ta’ala. Dengan harapan, anda bisa menjadi salah seorang dari mereka yang digambarkan oleh Alloh Ta’ala dalam firmannya :
“Dan merka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhoan Allah,kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (adzab) Tuhan kami pada suatu hari yang (dihari) orang-orang bermuka masam penuh kesakitan. Maka Alloh memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepda mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutra.” [Al-Insan : 8-12]

Semoga Alloh memberikan taufiq kepadaku, kepada anda, saudaraku muslim, untuk melakukan amal-amal sholih. Semoga Alloh menolongku, juga anda semua untuk tetap melaksanakan amal-amal sholih itu sampai tiba kematian.
Segala puji bagi Allah Subhaanahu wa Ta’aala Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada nabi kita, Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, juga kepada segenap kerabat dan sahabat serta pengikutnya yang setia hingga hari kiamat.
[Dinukil oleh Abu Mitfah Al-Pacitany dari buku Al-Ihsan Ilal Yatiim dengan terjemahan Keutamaan Menyantuni Anak Yatim karya Azhari Ahmad Mahmud]

DONASI ANAK YATIM


BAITULMAL
FORUM KOMUNIKASI AKTIVIS MASJID
CABANG WONOGIRI
Alamat : Keblokan Rt 06 Rw X, Selogiri, Wonogiri HP 081329585287
Kantor Pusat : Jl. Duwet 13 No. 1, Karangasem, Laweyan, Solo
( (0271) 7981234 Web :  www. Baitulmalfkam.com           
DAFTAR DONATUR
SANTUNAN PAKET SEKOLAH 10.000 ANAK YATIM
Baitulmal FKAM cabang Wonogiri Bagian Timur
Per Tanggal 03 juni 2011

                                                Nama Petugas :
NO
NAMA
ALAMAT
NO HP
PEKERJAAN
DONASI
1
Abdul Fatah
Cangkring, Jatiroto
0813XXX
Pengobat
Rp. 300,000
2
Seti Heriyanto
Cangkring, Jatiroto
085725XXX
Buruh
Rp. 200,000
3
Wachyudi
Jatisrono
081xxx
guru
Rp. 100,000
4
Gunawan
Ngelo, Jatiroto
-
Penjahit
Rp. 100,000
5
Mono
Angkring, Jatiroto
-
Wiraswasta
Rp. 100,000
6
Eko
Slogohimo

Guru
Rp. 100,000
7
Suprih
Cangkring, Jatiroto

Mekanik
Rp. 100,000
8
Aris B
Sambiroto lor, Jatiroto

Swasta
Rp. 100,000
9
Faqih
Cangkring, Jatiroto

Buruh
Rp    50,000
10
Reny Pujihastuti
Kopen, jatiroto

Pegawai
Rp.   50,000




















































































kembang api